Suluk Lintang Lanang

...dengar, lonceng itu berdentang untuk kita...

Selamat datang

Ruang ini tak lebih dari sebuah sudut kamar mandi tempat di mana saya biasa onani. Memuat berbagai macam pemikiran dan gagasan pribadi yang seringkali dipenuhi caci maki penuh tendensi. Tiada sedikitpun niat untuk membuat anda tersinggung maupun tersanjung.

Tentang Penulis

Setyo Andi Saputro. Seorang laki-laki biasa. Sedang menjalani peran sebagai Video Jurnalis. Memiliki mimpi sederhana tentang kedamaian, warung makan, dan peternakan. Mencoba belajar keras untuk tidak terlalu sering berpikir.

Tentang Harapan

; Kenapa manusia membutuhkan Tuhan


Jadi begitu. Harapan. Manusia terdiri (dan berdiri ) dari itu. Tanpanya manusia tak lebih dari ilalang yang bergoyang-goyang. Gerak ke kanan tanpa paham kenapa harus kanan. Meliuk ke kiri tanpa ngerti ada apa dengan kiri.

Tidak semua manusia itu kuat. Bahkan Hitler sekalipun di ujung ajalnya menyebut nama Tuhan. 'Oh my God', bisiknya, 'Eva Braun', lanjutnya. Kenapa? Hitler butuh harapan. Hitler perlu pegangan. Dia paham dia akan mati. Dan dia butuh sesuatu agar dia bisa mati dengan nyaman. Dan sesuatu itu adalah Tuhan (dan istrinya).

Kruschev juga. Saat Sovyet pertama kali meluncurkan pesawat ruang angkasa dia berkata, 'Sudah kami jelajahi ruang angkasa, tak satu Tuhan pun kami temukan'. Tapi di depan Izrail, kalimat terakhir Hitler juga-lah yang akhirnya dia lafalkan. Pun juga dengan Antony Flew . Dia akhirnya memilih berpaling kepada Tuhan, ketika tak semua pertanyaan menemukan jawaban. 'Karena orang-orang sudah pasti terpengaruh oleh saya, saya ingin berusaha dan memperbaiki kerusakan besar yang mungkin telah saya lakukan', ikrarnya.

'sapa yang bisa jd tempat untuk menanyakan ini mau di bawa kemana, enaknya gimana, baiknya gmn, bagusnya gmn, biar ada pakem yang jelas...', seorang kawan melempar tanya. Di layar internet. 'Tuhan', seseorang menjawabnya. Begitulah. Ketika tiada lagi tempat bertanya, Tuhan adalah jawabnya. Kenapa? Karena manusia butuh sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Sesuatu yang diyakini bisa memberikan alternatif jawaban. Harus ada jawaban. 'Dialah Yang Awal dan Yang Akhir. Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 57:3)'

'Cedhak karo Gusti kui marai ayem (Dekat dengan Tuhan itu membuat hati tenang)', sebuah bisikan. Lembut. Sangat lembut. Begitulah. Manusia butuh ketenangan. Dan ketenangan itu ada ketika seseorang mempunyai harapan. Sekali lagi, manusia bukan rumput. Dan manusia tidak bisa menjadi rumput. Meski suatu waktu pasti menjadi tanah. Yang mungkin akan ditumbuhi ilalang.

Lalu bagaimana dengan atheisme? Tidak semua manusia sekuat itu. Tidak semua manusia berani memikul sendiri semua beban. Menciptakan, memelihara, dan menghegemoni kekuasaan atas harapan. Berarti manusia ber-Tuhan itu lemah? Semua manusia itu terlahir lemah. Dan semua ingin menjadi kuat. Karena itu mereka butuh nutrisi. Dan nutrisi itu tercipta dari sebuah ramuan kuno yang menjadikan harapan sebagai bahan.

Tepat di titik inilah, benar-benar ada atau benar-benar tidak adanya Tuhan menjadi satu pertanyaan yang tiba-tiba basi dan tak butuh jawaban. Bermakna atau tidak bermakna justru menjadi sesuatu yang jauh lebih penting. Oportunis? Sama sekali tidak. Makna sama sekali beda dengan guna. Antara yang spiritual dan yang material.

'Jadi kenapa manusia membiasakan diri untuk ber-Tuhan?', seorang guru agama bertanya di depan kelas. 'Karena manusia terpaksa harus punya harapan', jawab seorang murid di pojok belakang. Ya. Mungkin begitu. Semoga semester depan dia meraih ranking satu. 'Tuhan bersamamu..'

Rata Penuh

Utan Kayu 23 Des.09

Ketika Asa Meng-Asu

Aku lelah bernanah, tak sudah-sudah'
Lalu puisi-puisi harakiri
Belati tusuk hati
Warna senja menua
Syahadat, istiftah, ruku', sujud, tasyahhud, shalawat, salam, berulang-ulang
'Manusia butuh harapan.. Manusia butuh Tuhan..'




Utan Kayu 23 Des. 09

Maaf. Bukan Bintang. Hanya Kunang-Kunang.

Laki-laki berlari. Lintasi sawah. Kung kong kung kong... Katak bersahut. Menyahut. Genggaman bercahaya. Di tengah gulita. Tersandung pematang. Keringat menyengat. Tiba di rumah. Dinding bambu. Atap alang-alang. Senthir kipat kipit . Gelesot di pinggir dipan.

'Sri.. hanya ini yang bisa aku dapatkan...', menata nafas.
'Dia itu nyidam bintang..', dukun bayi. Sirih dikunyah. Merah. Sewarna darah.
'Tapi aku hanya bisa menangkap kunang-kunang...', lelaki membuka genggaman.
'Tak apa mas..', perempuan ranjang tersenyum. Nafas terengah. 'Ini... cukup bagiku...', kunang-kunang beralih tangan.
Keringat keringat.
'Aaahhh... aaaahhh...', Engah engah.
'Tarik nafaasss... Buaaaannng... Tarik nafaaasss.. Buaaanngg...'
'Aku sayang kamu Sriii... aku sayang kamuuu...',
raungan lelaki. Sepasang tangan. Saling genggam.
'Aaaahhhh..... aaaaahhhhh.....'
Oeeekk.. Oeeekkk....
Malam pecah. Merah. Bergerak-gerak. Anak.
'Laki-laki...'
'Alhamdulillaaahh... Matur sembah nuwun Gustiii...'
'Cepat. Kau bisikkan adzan..'
'Allahuakbar Allahuakbar...',
adzan di kuping kanan.
Tangis bayi.
'Welcome to the jungle... We've got fun 'n' games... We got everything you want...', Welcome to The Jungle di kuping kiri.*
'Selamat datang nak..' , senyum terangkum.
'Kita beri nama siapa dia mas..' , di tengah lelah.
'Entah. Mungkin Lintang..'
'Bagaimana jika Kunang..'
'Terserah kamulah...'
Malam berserah. Pada sajadah. Tak lelah-lelah.


*terinspirasi dari salah satu bagian dari Koleksi Kicau Kata-Kata Kacau Muhammad Firman Prasetyo
** Ilustrasi gambar diambil dari
Grave of the Fireflies (Movie)



Utan Kayu, 19 Des. 09

Dialog

'Kenapa tak kau beli aku dengan syahadat palsu?'
'Karena aku dan kamu adalah bahagia'
'Lalu?'
'Itu saja'

Kematian pun mengambil jarak. Sekian tombak.
'Mari menuju itu'
Hu hu hu...



Utan Kayu 17 Des. 09

Kanjeng Sunan dan Kerbau-Kerbaunya

Di masjid menara. 'Pilihlah kerbau. Hormati kaum Hindu' , Sunan Kudus bersabda. Di depan pengikutnya. Dan semua menurut. Takbir menggema. Kerbau-kerbau berdarah. Penggal. Penggal. Penggal. Darah. Darah. Darah. Mereka Ismail yang menjelma. Yang terikat di altar. Martir yang siap dibakar.

***

'Tidakkah Sunan Kudus berdosa? ', seseorang berbisik. Dedaun gemerisik.
'Kenapa?'
'Bukankah dulu, jaman Musa, Kanjeng Pangeran melegalkan pembunuhan sapi-sapi? Agar beberapa Yahudi yang memuja hilang penghormatannya?'*
'Lalu?'
'Kenapa beliau memilih cara damai? Ketimbang frontal?'
'Kau ingin mengintervensi tugas-Nya? '
'Bukan begitu..'
'Lalu?'
'Aku hanya heran..'
'Apakah dengan begitu kau pikir Sunan Kudus tak Islam?'

Bungkam.
'Tenanglah.. Banyak hal yang tidak perlu dijelaskan hingga benar-benar jelas'**
'Tapi aku punya otak'
'Karena ada Yang Membuat'
'Berarti aku tak boleh berpikir?'
'Justru harus. Seperti Sunan Kudus'

Satu bintang jatuh. Tiada do'a. Yang meminta apa-apa.
(Mereka percaya, bintang jatuh tak pernah bisa apa-apa. Selain bercahaya)
'Tapi bukankah Al Bagarah menjelaskan...'
'Qur'an hanya memintamu untuk berpikir. Itu saja'

Malam gulita. Bicara di pinggir bara. Daging kerbau cipta aroma.



* Q.S Al Baqarah :67
** Dikutip dari novel Lembata karya F. Rahardi